Pengembangan Profesi Bidan di Masa Depan


A. Pengertian Bidan

Dalam bahasa inggris , kata Midwife (Bidan) berarti ”with woman”(bersama wanita , mid= together, wife=a woman. Dalam bahasa perancis, sage femme ( bidan ) berarti ” wanita bijaksana, sedangkan dalam bahasa latin, cum-mater ( bidan) berarti ”berkaitan dengan wanita”.

KEPMENKES NOMOR 900/MENKES/SK/VII/2002 bab 1 pasal 1 : Bidan adalah seorang wanita yang telah mengikuti program pendidikan bidan dan lulus ujian sesuai persyaratan yang berlaku.

International Confederation of Midwife bidan adalah seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan bidan yang diakui oleh negara serta memperoleh kualifikasi dan diberi izin untuk melaksanakan praktek kebidanan di negara itu.

B. Pengertian Profesi

Profesi adalah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus. Suatu profesi biasanya memiliki asosiasi profesi, kode etik, serta proses sertifikasi dan lisensi yang khusus untuk bidan profesi tersebut.

C. Bidan sebagai Profesi

Sebagai anggota profesi, bidan mempunyai ciri khas yang khusus sebagai pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan. Bidan mempunyai tugas yang sangat unik, yaitu :

1. Selalu mengedepankan fungsi ibu sebagai pendidik bagi anak-anaknya

2. Memiliki kode etik dengan serangkaian pengetahuan ilmiah yang didapat melalui proses pendidikan dan jenjang tertentu.

3. Keberadaan bidan diakui memiliki organisasi profesi yang bertugas meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat.

4. Anggotanya menerima jasa atas pelayanan yang dilakukan dengan tetap memegang teguh kode etik profesi.

Ø Bidan sebagai profesi memiliki ciri-ciri tertentu yaitu:

1. Bidan disiapkan melalui pendidikan formal agar lulusannya dapat melaksanakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya secara profesional.

2. Bidan memiliki alat yang dijadikan panduan dalam menjalankan profesinya, yaitu standar pelayanan kebidanan, kode etik, dan etika kebidanan.

3. Bidan memiliki kelompok pengettahuan yyang jelas dalam menjalankan profesinya.

4. Bidan memiliki kewenangan dalam menjalankan tugasnya.

5. Bidan memberikan pelayanan yang aman dan memuaskan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

6. Bidan memiliki organisasi profesi.

7. Bidan memiliki karakteristik yang khusus dan dikenal serta dibutuhkan masyarakat.

8. Profesi bidan dijadikan sebagai suatu pekerjaan dan sumber utama penghidupan.

D. Kewajiban Bidan terhadap Profesinya

1. Setiap bidan harus menjaga nama baik dan menjunjung tinggi citra profesinya dengan menampilkan kepribadian yang tinggi dan memberikan pelayanan yang bermutu pada masyarakat.

2. Setiap biadan harus senantiasa mengembangkan diri dan meningkatkan kemampuan profesinya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ø Perilaku Profesional Bidan

1. Bertindak sesuai keahliannya

2. Mempunyai moral yang tinggi

3. Bersifat jujur

4. Tidak melakukan coba-coba

5. Tidak memberikan janji yang berlebihan

6. Mengembangkan kemitraan

7. Terampil berkomunikasi

8. Mengenal batas kemampuan

9. Mengadvokasi pilihan ibu

E. Peraturan Dan Perundangan Yang Mendukung Keberadaan Profesi Bidan

Ø Kepmenkes No. 491/1968 tentang peraturan penyelenggaraan sekolah bidan.

Ø No. 363/Menkes/Per/IX/1980 tentang wewenang bidan

Ø No. 386/Menkes/SK/VII/1985 tantang penyelenggaraan program pendidikan Bidan.

Ø No. 329/Menkes/VI/Per/1991 tentang masa bakti bidan.

Ø Instruksi Presiden Soeharto pada sidang kabinet Paripurna tentang perlunya penempatan bidan di desa.

Ø Peraturan Mentri Kesehatan RI No. 572 th 1994 tentang registrasi dan praktek bidan.

Ø Peraturan Pemerintah No. 32 th 1996 lembaran negara No. 49 tentang tenaga kesehatan.

Ø Kepmenkes No. 077a/Menkes/SK/III/97 tentang petujuk teknis pelaksaan masa bakti bidan PTT dan pengembangan karir melalui praktek bidan perorangan di desa.

Ø Surat Keputusan Presiden RI No. 77 th 2000 tentang perubahan atas keputusan Presiden No. 23 th 1994 tentang pengangkatan bidan sebagai PTT.

F. Pengembangan Profesi Bidan

Asuhan kebidanan yang berpusat pada wanita (735), menempatkan orang orang yang menggunakan pelayanan kesehatan di pusat asuhan telah menjadi kebijakan pemerintah dalam 10 tahun terakhir, sebagian disebabkan oleh tekanan dari masyarakat dalam menyediakan semua asuhan kesehatan. Perhatian wanita tentang jenis pelayanan yang didapat telah menjadi momentum yang ditunggu tunggu sejak tahun 1960-an, setelah diperkenalkannya teknologi dan teknik yang lebih invasif.

Organisasi dan pola asuhan telah menjadi lebih kompleks dan pelayanan menjadi lebih terkotak-kotak dengan banyak perselisihan tentang siapa yang harus mengatur kelahiran bayi dan dimana tempatnya (curell, 1990; House of Commons Health Committee,1992)

Ketetapan pelayanan yang lebih sensitif melibatkan wanita dalam perencanaan dan pemantauan pelayanan, juga mampu menentukan elemen-elemen perawatan apa yang mereka terima. Organisasi perlu mendukung para staf untuk menciptakan lingkungan positif yang membantu perkembangan lembaga dan memfasilitasi perubahan. Wanita umumnya merasa puas dengan pelayanan tetapi ada beberapa hal yang memerlukan peningkatan. Yang jelas, perlu dilakukan suatu pendekatan yang terfokus dan kolaboratif oleh oleh para bidan, tenaga medis dan yang lainnya jika mereka hendak maju ke depan dan bekerja sama dengan kaum wanita, kuncinya adalah keterlibatan ssemua pihak. Pencapaian pelayanan yang berpusat pada wanita membutuhkan suatu komitmen dari setiap orang yang peduli, tidak hanya mereka yang mengatur penggunaan sumber-sumber mereka yang bertindak sebagai pemberi asuhan (dokter,bidan dan lainnya).

Kirkham (1996) menyatakan bahwa kita dipengaruhi oleh masa lalu kita dan proses profesionalisasi telah menciptakan dilema dalam tiga tahap hubungan dengan para bidan, kaum wanita dan tenaga profesional yang lain. Hubungan ini menjadi dasar bagaimana kita melakukan praktik yang perlu dikembangkan.

Para bidan memiliki kekuatan untuk membantu memperbaiki pelayanan maternitas, untuk menjadikannya sebagai suatu pelayanan yang berpusat pada wanita. Inti kebidanan adalah konsep asuhan sehingga para bidan harus lebih peka terhadap tanggung jawab mereka pada wanita yang mereka asuh. Sebuah filosofi kebidanan (Philosophy for Midwifery) yang dikeluarkan pada tahun 1991 oleh Royal College of Midwives, tertulis sebagai berikut : Tujuan profesi kebidanan adalah menyediakan suatu pelayanan yang memfasilitasi rasa aman dan kepuasan wanita yang mengalami perubahan menjadi ibu. Ini adalah pencapaian yang sangat prinsip dari suatu proses dukungan,perawatan,bimbingan,pengawasan dan pendidikan. Kebutuhan wanita yang unik dan personal dalam masa usia subur mereka adalah pusat dari pelayanan ini.

Telah dipahami bahwa jika bidan akan bergerak ke pelayanan yang benar –benar berpusat pada wanita maka mereka membutuhkan perubahan dalam struktur organisasi dan sistem operasional,demikian pula dengan persiapan demi kepentingan setiap praktisi.

Dasar dari suatu pelayanan membutuhkan pembicara yang baik, suatu sistem yang menunjukkan pilihan dan suatu pelayanan informasi yang :

· Mengindikasikan apa yang diharapkan kaum wanita secara tepat

· Memungkinkan wanita untuk memiliki kepercayaan diri dalam membuat keputusan setelah diberikan informasi yang relevan.

· Melibatkan wanita dalam perawatannya

Tidak diragukan jika bidan dan wanita bekerja sama maka           mereka adalah kekuatan yang sangat dahsyat untuk perubahan. Mungkin pertanyaan terpenting adalah “ apakah bidan dan wanita menginginkan suatu perubahan ?” Asuhan berpusat pada wanita hanya akan menjadi suatu praktik nyata jika bidan dan wanita menginginkannya.

Pengkajian rencana untuk asuhan berpusat pada wanita

· Bagaimana kesinambungan pemberi asuhan ditingkatkan ?

· Apa jenis pilihan yang diberikan pada kaum wanita?

· Bagaimana koping bidan terhadap pola kerja baru yang diperkenalkan dalam nama asuhan berpusat pada wanita?

· Apa implikasi pelatihan dan pendidikan?

· Apakah hubungan interprofesional dipengaruhi dan jika memang demikian, bagaimana?

· Bagaimana perencanaan diterima oleh kaum wanita?

· Berapa banyak biaya perencanaan, yang mungkin lebih penting berapa biaya pastinya dan apakah hal itu sebanding?

Bagaimanapun, perubahan tidak akan terjadi kecuali kaum wanita merasa percaya diri, mampu memberdayakan, mengembangkan dan mendukung diri mereka sendiri. Bagian dari pemberdayaan adalah memiliki informasi yang baik tentang apa yang harus ditawarkan dan peka terhadap pilihan yang ada. Pengetahuan adalah kekuatan tapi mengetahui bagaimana menggunakannya adalah pemberdayaan.

 

Para bidan dan ahli obstetrik harus peka terhadap masalah ini dan harus secara konstan mengawasi dan mengevaluasi praktik mereka,memastikan bahwa mereka menyediakan tipe asuhan yang dapat diakses, aman, menguntungkan dan dapat diterima oleh kaum wanita. Perjalanan praktik ke masa depan harus dalam lingkup kerja sama, bidan dan ahli obstetrik secara aktif mendengarkan wanita,  yang mereka katakan untuk mengetahui apa yang mereka inginkan dan mengapa, serta memperhatikannya. Dalam perkataan proust, mereka perlu melihat dengan mata yang baru : “Perjalanan nyata dari suatu penemuan bukanlah mencari daratan baru tetapi melihat dengan mata yang baru” (proust)

Melahirkan anak tidak berubah, yang berubah adalah para bidan, ahli obstetrik dan para wanita; itulah sebabnya mendengarkan menjadi sangat penting.

G. Contoh Inovasi Dalam Kebidanan

Akupuntur (ampuh atasi masalah kesuburan) adalah ilmu akupuntur yang menerapkan prinsip biomedik dalam teori dan prakteknya, dan dilaksanakan oleh seorang dokter spesialis akupuntur medis.

Water Birthing adalah sebuah cara persalinan didalam air yang hangat, ibu yang hendak melahirkan dimasukkan ke dalam sebuah kolam bersalin khusus yang berisi air hangat dan besarnya kira-kira berdiameter 2 meter.

Hypnobirthing adalah metode yang berakar pada ilmu hypnosis dengan metode pendekatan kejiwaan yang memberi kesempatan kepada wanita untuk berkonsentrasi, fokus dan rileks.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Beberapa sasaran MDGs telah dibahas secara mendalam tentang sasaran kelima untuk meningkatkan kesehatan ibu. Oleh karena itu mutu pelayan bidan adalah faktor-faktor yang perlu mendapatkan perhatian secara serius. Untuk itu diperlukan upaya-upaya yang sistimatis agar penyediaan, distribusi dan mutu tenaga bidan dapat dijamin pelaksanaannya.

Secara garis besar direkomendasikan untuk melaksanakan peningkatan peran bidan dalam mensukseskan pencapaian MDGs mengikuti sistim dan strategi nasional dan global yang telah disepakati bersama.

B. SARAN

1. Sebagai mahasiswa bidan sebaiknya menjaga fisik dan mental yang seimbang. Karena mental yang baik menunjang fisik yang baik pula. Hati yang tidak baik pasti tercermin dari perilaku dan sikap yang tidak baik pula. Jadi hati yang baik dapt berpositif thingking, feeling good, baik hati, bahagia, simpati, bersemangat merupakan energi yang harus kita pupuk dan kita tanamkan didiri kita yang nantinya akan bidan pancarkan kepada kliennya.

2. Mahasiswa tentunya harus diimbangi dengan kesempatan memperoleh pendidikan lanjutan, pelatihan, dan selalu berpartisipasi aktif dalam pelayanan kesehatan. Hal ini yang menjadi tuntutan agar bidan lebih siap mental, fisik dan tanggap terhadap permasalahan yang lebih kompleks di masa depan.

DAFTAR PUSTAKA

- Bryar, R. 1995. Theory for Midwifery Practie, Edisi I. Mac Millan:Houndmillo.

- Cahyani, A, 2003. Dasar-dasar Organisasi dan Manajemen. PT. Grasindo, Jakarta.

- Depkes RI. 1995. Pusdiknakes, Konsep Kebidanan , Jakarta.

- www.Profesi  Bidan di Masa Depan.com

- Makalah Pelatihan Manajemen Asuhan Kebidanan (2002) Tim Pusat Pengembangan Keperawatan Corolus (PPKC), Yogyakarta

- Prawiroharjo, Suryono. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.

- Henderson, Christine dkk. 2006. Konsep Kebidanan. EGC. Jakarta.

MAKALAH

PENGEMBANGAN PROFESI BIDAN DI MASA DEPAN

Di susun Sebagai Tugas Terstruktur Mata Kuliah Konsep Kebidanan Semester I Tahun Ajaran 2010/2011

Disusun Oleh:

Kelompok I Kelas 1 B

Ida Lissufiati Dhakiyah     (100054)

Hartini                                 (100055)

Setianingsih                       (100056)

Nia Angela                          (100057)

Amanah Seti Rosiana        (100058)

Anugrah Destya T              (100059)

Widiawati                             (100060)

Sendiana Laksmi                 (100061)

Naning Nurul Muslifah        (100062)

Erlita Heri K                          (100063)

Rita Astari                             (100064)

AKADEMI     KEBIDANAN    YOGYAKARTA

2010

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada saat ini MDGs telah dijadikan pedoman untuk menyusun perioritas pembangunan global serta telah diterima secara luas sebagai alat ukur kemajuan pembangunan suatu bangsa. Ketersediaan tenaga kesehatan yang terampil dalam menolong persalinan telah masuk ke dalam indikator pencapaian MDGs artinya masalah bidan dalam agenda pembangunan global dan nasional atas dasar inilah perlu dilakukan pembahasan secara mendalam tentang tenaga kesehatan yang terampil dalam dalam rangka mencapai target-target MDGs.

Tenaga penolong persalinan terampil (bidan) tanpa menggali inovasi dan upaya-upaya baru untuk meningkatkan akses dan kualitas pada pertolongan persalinan oleh tenaga medis yang terampil maka mustahil sasaran MDGs dapat tercapai di Indonesia.

Dengan adanya program MDGs untuk meningkatkan peran bidan dalam mewujudkan kesehatan ibu dan anak. Sehingga bidan siap dalam menjalankan perannya di masa depan.

B. Tujuan Masalah

1. Tujuan Umum

Mahasiswa diharapkan setelah mempelajari makalah ini dapat memahami tuntutan  perkembangan profesi bidan di masa depan.

2. Tujuan Khusus

Tujuan khusus dalam penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui:

· Pengertian bidan

· Pengertian profesi

· Ciri-ciri bidan sebagai profesi

· Kewajiban bidan sebagai profesinya

· Pengembangan profesi bidan

· Contoh inovasi perkembangan pelayanan kebidanan

3. Manfaat Makalah

Manfaat penyusunan makalah ini adalah:

· Memberi gambaran tentang pengembangan profesi bidan di masa depan

· Memberi acuan untuk menumbuhkan kreatifitas calon bidan dalam mengembangkan profesi bidan di masa depan

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Bidan

Dalam bahasa inggris , kata Midwife (Bidan) berarti ”with woman”(bersama wanita , mid= together, wife=a woman. Dalam bahasa perancis, sage femme ( bidan ) berarti ” wanita bijaksana, sedangkan dalam bahasa latin, cum-mater ( bidan) berarti ”berkaitan dengan wanita”.

KEPMENKES NOMOR 900/MENKES/SK/VII/2002 bab 1 pasal 1 : Bidan adalah seorang wanita yang telah mengikuti program pendidikan bidan dan lulus ujian sesuai persyaratan yang berlaku.

International Confederation of Midwife bidan adalah seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan bidan yang diakui oleh negara serta memperoleh kualifikasi dan diberi izin untuk melaksanakan praktek kebidanan di negara itu.

B. Pengertian Profesi

Profesi adalah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus. Suatu profesi biasanya memiliki asosiasi profesi, kode etik, serta proses sertifikasi dan lisensi yang khusus untuk bidan profesi tersebut.

C. Bidan sebagai Profesi

Sebagai anggota profesi, bidan mempunyai ciri khas yang khusus sebagai pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan. Bidan mempunyai tugas yang sangat unik, yaitu :

1. Selalu mengedepankan fungsi ibu sebagai pendidik bagi anak-anaknya

2. Memiliki kode etik dengan serangkaian pengetahuan ilmiah yang didapat melalui proses pendidikan dan jenjang tertentu.

3. Keberadaan bidan diakui memiliki organisasi profesi yang bertugas meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat.

4. Anggotanya menerima jasa atas pelayanan yang dilakukan dengan tetap memegang teguh kode etik profesi.

Ø Bidan sebagai profesi memiliki ciri-ciri tertentu yaitu:

1. Bidan disiapkan melalui pendidikan formal agar lulusannya dapat melaksanakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya secara profesional.

2. Bidan memiliki alat yang dijadikan panduan dalam menjalankan profesinya, yaitu standar pelayanan kebidanan, kode etik, dan etika kebidanan.

3. Bidan memiliki kelompok pengettahuan yyang jelas dalam menjalankan profesinya.

4. Bidan memiliki kewenangan dalam menjalankan tugasnya.

5. Bidan memberikan pelayanan yang aman dan memuaskan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

6. Bidan memiliki organisasi profesi.

7. Bidan memiliki karakteristik yang khusus dan dikenal serta dibutuhkan masyarakat.

8. Profesi bidan dijadikan sebagai suatu pekerjaan dan sumber utama penghidupan.

D. Kewajiban Bidan terhadap Profesinya

1. Setiap bidan harus menjaga nama baik dan menjunjung tinggi citra profesinya dengan menampilkan kepribadian yang tinggi dan memberikan pelayanan yang bermutu pada masyarakat.

2. Setiap biadan harus senantiasa mengembangkan diri dan meningkatkan kemampuan profesinya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ø Perilaku Profesional Bidan

1. Bertindak sesuai keahliannya

2. Mempunyai moral yang tinggi

3. Bersifat jujur

4. Tidak melakukan coba-coba

5. Tidak memberikan janji yang berlebihan

6. Mengembangkan kemitraan

7. Terampil berkomunikasi

8. Mengenal batas kemampuan

9. Mengadvokasi pilihan ibu

E. Peraturan Dan Perundangan Yang Mendukung Keberadaan Profesi Bidan

Ø Kepmenkes No. 491/1968 tentang peraturan penyelenggaraan sekolah bidan.

Ø No. 363/Menkes/Per/IX/1980 tentang wewenang bidan

Ø No. 386/Menkes/SK/VII/1985 tantang penyelenggaraan program pendidikan Bidan.

Ø No. 329/Menkes/VI/Per/1991 tentang masa bakti bidan.

Ø Instruksi Presiden Soeharto pada sidang kabinet Paripurna tentang perlunya penempatan bidan di desa.

Ø Peraturan Mentri Kesehatan RI No. 572 th 1994 tentang registrasi dan praktek bidan.

Ø Peraturan Pemerintah No. 32 th 1996 lembaran negara No. 49 tentang tenaga kesehatan.

Ø Kepmenkes No. 077a/Menkes/SK/III/97 tentang petujuk teknis pelaksaan masa bakti bidan PTT dan pengembangan karir melalui praktek bidan perorangan di desa.

Ø Surat Keputusan Presiden RI No. 77 th 2000 tentang perubahan atas keputusan Presiden No. 23 th 1994 tentang pengangkatan bidan sebagai PTT.

F. Pengembangan Profesi Bidan

Asuhan kebidanan yang berpusat pada wanita (735), menempatkan orang orang yang menggunakan pelayanan kesehatan di pusat asuhan telah menjadi kebijakan pemerintah dalam 10 tahun terakhir, sebagian disebabkan oleh tekanan dari masyarakat dalam menyediakan semua asuhan kesehatan. Perhatian wanita tentang jenis pelayanan yang didapat telah menjadi momentum yang ditunggu tunggu sejak tahun 1960-an, setelah diperkenalkannya teknologi dan teknik yang lebih invasif.

Organisasi dan pola asuhan telah menjadi lebih kompleks dan pelayanan menjadi lebih terkotak-kotak dengan banyak perselisihan tentang siapa yang harus mengatur kelahiran bayi dan dimana tempatnya (curell, 1990; House of Commons Health Committee,1992)

Ketetapan pelayanan yang lebih sensitif melibatkan wanita dalam perencanaan dan pemantauan pelayanan, juga mampu menentukan elemen-elemen perawatan apa yang mereka terima. Organisasi perlu mendukung para staf untuk menciptakan lingkungan positif yang membantu perkembangan lembaga dan memfasilitasi perubahan. Wanita umumnya merasa puas dengan pelayanan tetapi ada beberapa hal yang memerlukan peningkatan. Yang jelas, perlu dilakukan suatu pendekatan yang terfokus dan kolaboratif oleh oleh para bidan, tenaga medis dan yang lainnya jika mereka hendak maju ke depan dan bekerja sama dengan kaum wanita, kuncinya adalah keterlibatan ssemua pihak. Pencapaian pelayanan yang berpusat pada wanita membutuhkan suatu komitmen dari setiap orang yang peduli, tidak hanya mereka yang mengatur penggunaan sumber-sumber mereka yang bertindak sebagai pemberi asuhan (dokter,bidan dan lainnya).

Kirkham (1996) menyatakan bahwa kita dipengaruhi oleh masa lalu kita dan proses profesionalisasi telah menciptakan dilema dalam tiga tahap hubungan dengan para bidan, kaum wanita dan tenaga profesional yang lain. Hubungan ini menjadi dasar bagaimana kita melakukan praktik yang perlu dikembangkan.

Para bidan memiliki kekuatan untuk membantu memperbaiki pelayanan maternitas, untuk menjadikannya sebagai suatu pelayanan yang berpusat pada wanita. Inti kebidanan adalah konsep asuhan sehingga para bidan harus lebih peka terhadap tanggung jawab mereka pada wanita yang mereka asuh. Sebuah filosofi kebidanan (Philosophy for Midwifery) yang dikeluarkan pada tahun 1991 oleh Royal College of Midwives, tertulis sebagai berikut : Tujuan profesi kebidanan adalah menyediakan suatu pelayanan yang memfasilitasi rasa aman dan kepuasan wanita yang mengalami perubahan menjadi ibu. Ini adalah pencapaian yang sangat prinsip dari suatu proses dukungan,perawatan,bimbingan,pengawasan dan pendidikan. Kebutuhan wanita yang unik dan personal dalam masa usia subur mereka adalah pusat dari pelayanan ini.

Telah dipahami bahwa jika bidan akan bergerak ke pelayanan yang benar –benar berpusat pada wanita maka mereka membutuhkan perubahan dalam struktur organisasi dan sistem operasional,demikian pula dengan persiapan demi kepentingan setiap praktisi.

Dasar dari suatu pelayanan membutuhkan pembicara yang baik, suatu sistem yang menunjukkan pilihan dan suatu pelayanan informasi yang :

· Mengindikasikan apa yang diharapkan kaum wanita secara tepat

· Memungkinkan wanita untuk memiliki kepercayaan diri dalam membuat keputusan setelah diberikan informasi yang relevan.

· Melibatkan wanita dalam perawatannya

Tidak diragukan jika bidan dan wanita bekerja sama maka           mereka adalah kekuatan yang sangat dahsyat untuk perubahan. Mungkin pertanyaan terpenting adalah “ apakah bidan dan wanita menginginkan suatu perubahan ?” Asuhan berpusat pada wanita hanya akan menjadi suatu praktik nyata jika bidan dan wanita menginginkannya.

Pengkajian rencana untuk asuhan berpusat pada wanita

· Bagaimana kesinambungan pemberi asuhan ditingkatkan ?

· Apa jenis pilihan yang diberikan pada kaum wanita?

· Bagaimana koping bidan terhadap pola kerja baru yang diperkenalkan dalam nama asuhan berpusat pada wanita?

· Apa implikasi pelatihan dan pendidikan?

· Apakah hubungan interprofesional dipengaruhi dan jika memang demikian, bagaimana?

· Bagaimana perencanaan diterima oleh kaum wanita?

· Berapa banyak biaya perencanaan, yang mungkin lebih penting berapa biaya pastinya dan apakah hal itu sebanding?

Bagaimanapun, perubahan tidak akan terjadi kecuali kaum wanita merasa percaya diri, mampu memberdayakan, mengembangkan dan mendukung diri mereka sendiri. Bagian dari pemberdayaan adalah memiliki informasi yang baik tentang apa yang harus ditawarkan dan peka terhadap pilihan yang ada. Pengetahuan adalah kekuatan tapi mengetahui bagaimana menggunakannya adalah pemberdayaan.

 

KETERIKATAN

KEPERCAYAAN

KOMITMEN

TIM

III

TIM

Pemberdayaan

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengembangan                                Dukungan

 

Para bidan dan ahli obstetrik harus peka terhadap masalah ini dan harus secara konstan mengawasi dan mengevaluasi praktik mereka,memastikan bahwa mereka menyediakan tipe asuhan yang dapat diakses, aman, menguntungkan dan dapat diterima oleh kaum wanita. Perjalanan praktik ke masa depan harus dalam lingkup kerja sama, bidan dan ahli obstetrik secara aktif mendengarkan wanita,  yang mereka katakan untuk mengetahui apa yang mereka inginkan dan mengapa, serta memperhatikannya. Dalam perkataan proust, mereka perlu melihat dengan mata yang baru : “Perjalanan nyata dari suatu penemuan bukanlah mencari daratan baru tetapi melihat dengan mata yang baru” (proust)

Melahirkan anak tidak berubah, yang berubah adalah para bidan, ahli obstetrik dan para wanita; itulah sebabnya mendengarkan menjadi sangat penting.

G. Contoh Inovasi Dalam Kebidanan

Akupuntur (ampuh atasi masalah kesuburan) adalah ilmu akupuntur yang menerapkan prinsip biomedik dalam teori dan prakteknya, dan dilaksanakan oleh seorang dokter spesialis akupuntur medis.

Water Birthing adalah sebuah cara persalinan didalam air yang hangat, ibu yang hendak melahirkan dimasukkan ke dalam sebuah kolam bersalin khusus yang berisi air hangat dan besarnya kira-kira berdiameter 2 meter.

Hypnobirthing adalah metode yang berakar pada ilmu hypnosis dengan metode pendekatan kejiwaan yang memberi kesempatan kepada wanita untuk berkonsentrasi, fokus dan rileks.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Beberapa sasaran MDGs telah dibahas secara mendalam tentang sasaran kelima untuk meningkatkan kesehatan ibu. Oleh karena itu mutu pelayan bidan adalah faktor-faktor yang perlu mendapatkan perhatian secara serius. Untuk itu diperlukan upaya-upaya yang sistimatis agar penyediaan, distribusi dan mutu tenaga bidan dapat dijamin pelaksanaannya.

Secara garis besar direkomendasikan untuk melaksanakan peningkatan peran bidan dalam mensukseskan pencapaian MDGs mengikuti sistim dan strategi nasional dan global yang telah disepakati bersama.

B. SARAN

1. Sebagai mahasiswa bidan sebaiknya menjaga fisik dan mental yang seimbang. Karena mental yang baik menunjang fisik yang baik pula. Hati yang tidak baik pasti tercermin dari perilaku dan sikap yang tidak baik pula. Jadi hati yang baik dapt berpositif thingking, feeling good, baik hati, bahagia, simpati, bersemangat merupakan energi yang harus kita pupuk dan kita tanamkan didiri kita yang nantinya akan bidan pancarkan kepada kliennya.

2. Mahasiswa tentunya harus diimbangi dengan kesempatan memperoleh pendidikan lanjutan, pelatihan, dan selalu berpartisipasi aktif dalam pelayanan kesehatan. Hal ini yang menjadi tuntutan agar bidan lebih siap mental, fisik dan tanggap terhadap permasalahan yang lebih kompleks di masa depan.

DAFTAR PUSTAKA

- Bryar, R. 1995. Theory for Midwifery Practie, Edisi I. Mac Millan:Houndmillo.

- Cahyani, A, 2003. Dasar-dasar Organisasi dan Manajemen. PT. Grasindo, Jakarta.

- Depkes RI. 1995. Pusdiknakes, Konsep Kebidanan , Jakarta.

- www.Profesi  Bidan di Masa Depan.com

- Makalah Pelatihan Manajemen Asuhan Kebidanan (2002) Tim Pusat Pengembangan Keperawatan Corolus (PPKC), Yogyakarta

- Prawiroharjo, Suryono. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.

- Henderson, Christine dkk. 2006. Konsep Kebidanan. EGC. Jakarta.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.